Hola!

wah udah lama banget sejak post terakhir..waktu cepet banget berlalu dah.

sekarang gw udah pindah kerja ke Kementerian Pekerjaan Umum, sebuah instansi pemerintah yang bergerak di bidang infrastruktur. bidang yang sangat penting bagi kemajuan suatu negara. tapi yang namanya pegawai negeri, setidaknya sampai generasi2 terdahulu pensiun, ya bakal lelet kerjanya dangak efektif. its just my opinion. tp bukan itu yang bakal kita bahas. hehehe

gw ditempatin di Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah 3, yg terdiri dari sumsel, bengkulu, bangka belitung, dan lampung. dan gw dioper lagi ke bengkulu. a place i’ve know nothing about it.  kebayangnya gw bakal ditempatin di daerah utan2 belantara yang banyak gempanya. hahaha.. tp ternyata gak se-lebay yang gw bayangkan. udah berbentuk kota juga kok, tp kota kecil yang sedang berkembang. hmm, karena disini di pinggir pantai dan deket banget sama pusat2 gempa masa lalu, so disini agak panas dan agak sering gempa kecil.

kosan gw deket banget sama pantai, bisa jalan kaki ksana. setelah hampir seminggu di bengkulu baru sabtu (19022011) kemaren gw berkesempatan kesana (sebelum2nya cuma lewat doang naek mobil arah ke kantor). gw kira bakal rame, ternyata sepi aje..pantainya panjaaaaaaaaaaaaang banget. makanya namanya jadi pantai panjang. hehe

ini beberapa foto di pantai panjang:

okeh, segtu aja dulu deh..

ada yang berminat main kesini?I’ll be your humble guide. hehe

Advertisements

are we??

why were you told me what i have to do??
i’m sick of that thing u called love!
is that love?
is that a “real” love???

after i do what you want, then you considered me as nothing!!
you push me, when i’m done then you’re busy with your world.

i only want a love letter, i want to see your love. but what i got??nothing, in 3 weeks.
is that what will i get if i do nothing to you???

are we a couple????
hah?!

AAAAHHHHHH!!!!!!
Fu*k you!!!!!

kemaren, 18 november 2009, gw maen lagi ke rumah nenek gw..yg waktu itu gw ceritain di rintihan seorang nenek. kondisinya udah menurun dari sejak terakhir gw ke sana. kali ini gak respon sama sekali gw ada di depannya. nunggu dipancing dulu memorinya..tp alhamdulillah beliau masih inget gw walau gak se-haru waktu itu. hanya ada sedikit tangis kemudian reda..

gw gak bisa cerita kondisi beliau skrg..lebih pilu lg ntar. banyangin aja deh gmn rasanya kehilangan sesuatu yang namanya “reaksi” dan “memori” sedikit demi sedikit tanpa disadari.

buat kita, yg masih muda dan sehat, gw punya pesan,.manfaatkan yg 5 itu sebelum datang yg 5 lainnya. manfaatkan dengan sebaik-baikya deh. jgn menggerutu melulu..bekali diri sendiri menghadapi yg namanya maut.

hari ini gw wisuda, kesan pertamanya sih biasa aj. bener2 biasa, ky lo br aj dtg ke nikahan org laen. biasa bgt. yg menyenangkan terjadi ketika bertemu dengan temen2 dari prodi laen. begitulah, salaman, saling mengucapkan selamat dan sukses trus berlalu sambil cengir2. pas selesai prosesi, gw ganti baju ala wisudawan HMS, himpunan mahasiswa sipil, dan jantung gw mulai berdegup kencang. yg ada dipikiran gw: “mati gak ya ntar??haduuuh”. maklum gak pernah pasrah klo digebukin tp hari ini harus pasrah.hehehe diarak, kata2an dikit, sampe kampus, liat massa: “maaakk, banyak banget!!kynya mati nih gw!!” udeh bolak2 ngatur napas tp, ttp aje deg2an! bangke! setelah turun dari truk, mulailah prosesi yg sebenarnya – kuya2an -. disinilah gw merasa senang yg sangat. “ini baru wisudaan!”. yaaa, walopun gw gak se-mampus temen2 gw ky om, randi pp, razi, aang dll. hehehe tangisan mengakhiri prosesi, “bukan karena punggungku sakit kawan, tp hatiku yang sakit. rasanya seperti aku akan terpisah dari kalian, dan kenangan yg kudapat setiap hari akan hilang oleh waktu”. aku tidak menyesal masuk sipil dan di wisuda oleh kalian, HMS. terima kasih telah mengisi hari-hariku.

SEORANG mahasiswa tiba-tiba saja terkejut ketika melihat sebuah buku bergambar orang dalam sikap beladiri di salah satu rak buku Toko Gunung Agung, tepat di sisi pojok utara perempatan Tugu, di simpang empat Jalan Jendral Sudirman-Jalan Diponegoro – Jl AM Sangaji – dan Jalan Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta. Toko buku itu, pada tahun 1977 merupakan satu-satunya yang terbesar dan terlengkap di Kota Pelajar tersebut. Kini (tahun 2008) toko buku tersebut sudah tidak ada lagi.

Rasa ingin tahunya mendorong ia membuka halaman demi halaman buku itu. Di sana , di buku yang dipegangnya, terlihat dengan jelas aneka foto segala gerak beladiri dalam keterangan bahasa Indonesia yang mudah dimengerti. Foto-fotonya pun terpampang lugas sehingga dengan sekali melihat, si pembaca akan tahu apa yang dimaksud dan dimaui dengan gerak tersebut.

Itulah gerakan-gerakan beladiri silat. Buku itu seolah mengungkap tuntas sebuah jurus ilmu silat yang oleh banyak perguruan saat itu dianggap amat sangat rahasia dan tabu untuk diperlihatkan orang lain selain murid-muridnya.

Tetapi, di toko itu, pada tahun 1977; bukan hanya satu jurus yang dideretkan di rak tersebut. Ada beberapa buku lain yang berjudul seperti Burung Kuntul, Burung Garuda, dan Harimau. Siapa gerangan pendekar yang berani melanggar tradisi tabu perguruan silat itu?

Dialah Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo – yang kemudian dikenal dengan sapaan Pak Dirdjo atau Pak Dhe — salah seorang keturunan bangsawan dari Keraton Pakualaman Yogyakarta, putra dari Raden Mas Paku Soerdirdjo.

Pak Dirdjo-lah pendekar yang menobrak tradisi tabu itu. Beliau sengaja menuliskan ilmu silat yang diramunya itu dan kemudian dinamakan aliran silat Perisai Diri. Di dalam buku itu, lengkap dengan foto-foto tentang gerakan teknik silat dan dijual kepada umum pada tahun 1976. Tujuannya hanya satu: berusaha memperkenalkan beladiri silat seluas-luasnya.

Beliau melakukan itu untuk membuktikan bahwa ilmu silat adalah warisan budaya Bangsa Indonesia yang mampu bersaing dengan ilmu beladiri asing lainnya yang berasal dari Jepang, Korea, maupun Cina yang kala itu berkembang pesat di Indonesia. Silat harus dikembangkan dan dicintai oleh Bangsa Indonesia . Jangan sampai silat tidak berkembang karena terkungkung tradisi tabu dan ketradisionalannya.

Upaya Pak Dirdjo itu membuahkan hasil. Silat Perisai Diri akhirnya bukan hanya berkembang di kampung-kampung, namun telah merambah ke kampus-kampus perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah. Silat Perisai Diri telah mampu mengubah pandangan masyarakat dari silat yang dianggap “kampungan” menjadi silat “kampusan”.

Perisai Diri tercatat sebagai perguruan silat yang menggelar kejuaraan antar perguruan tinggi di Indonesia sejak tahun 1975. Setelah itu secara rutin Perisai Diri menggelar kejuaraan nasional antar-perguruan tinggi. Dan hingga tahun 2004 lalu, Perisai Diri telah melaksanakan kejuaraan nasional silat Perisai Diri untuk yang ke-23 kalinya!

Merantau

Pak Dirdjo yang lahir pada 8 Januari 1913 ini sudah terlihat bakat yang menonjol dalam kemahirannya menguasai beladiri silat pada usia kanak-kanak. Pada umur 9 tahun, misalnya, ia telah mampu menguasai ilmu silat yang diajarkan di lingkungan Paku Alaman bahkan mampu pula melatih silat rekan-rekan sepermainannya.

Tampaknya Pak Dirdjo yang pada masa kecilnya dipanggil Soebandiman atau Bandiman oleh rekan-rekannya, tidak puas dengan ilmu silat yang ditelah didapatkannya di lingkungan tembok istana Paku Alaman itu. Setelah menamatkan HIK (Hollands Inlandsche Kweekchool — sekolah setingkat Sekolah Menengah Pertama jurusan guru pada masa itu) di Yogyakarta, Pak Dirdjo yang berusia 16 tahun mulai merantau untuk memperluas pengalaman hidupnya.

Pak Dirdjo melangkahkan kakinya ke arah Timur. Ia menuju Jombang di Jawa Timur. Di sana ia berguru kepada Bapak Hasan Basri dalam ilmu silat, dan belajar ilmu keagamaan dan ilmu lainnya di Pondok Tebu Ireng. Untuk membiayai keperluan hidupnya, ia bekerja di Pabrik Gula Peterongan.

Setelah merasa cukup berguru di Jombang , ia melangkahkan kakinya menuju ke Barat ke kota Solo di Jawa Tengah. Di kota ini ia berguru kepada Bapak Sayid Sahab dalam bidang ilmu silat. Di samping itu ia juga melengkapi ilmunya dengan berguru kepada kakeknya sendiri Ki Jogosurasmo.

Pemuda Soebandiman ini belum puas mereguk ilmu. Ia kembali berguru ke Bapak Soegito yang beraliran silat Setia Saudara (SS). Rasa keingintahuan yang besar pada ilmu beladiri menjadikan pemuda ini masih belum merasa puas dengan apa yang telah ia miliki. Soebandiman alias Pak Dirjo muda ini meneruskan berguru ke Pondok Randu Gunting di Semarang, ia masih melengkapi ilmu silatnya ke Kuningan di daerah Cirebon , Jawa Barat. Semua ilmu yang didapatnya itu diolah dan melebur dalam dirinya.

Setelah merasa cukup, pemuda yang telah dewasa ini menetap di Banyumas dan mendirikan perguruan silat Eka Kalbu (Eka yang berarti satu hati). Dalam pergaulannya di kalangan ahli beladiri di Banyumas, pemuda ini bertemu dengan seorang suhu bangsa Tionghoa, Yap Kie San, yang beraliran beladiri Siauw Liem Sie.

Sekali lagi, pemuda yang haus ilmu itu berteman dan berguru kepada Yap Kie San. Selama 14 tahun pemuda ini berguru kepada Yap Kie San. Ada enam saudara perguruannya yang bertahan lama diasuh oleh Suhu Yap Kie San. Empat adalah bangsa Tionghoa, dan dua lainnya dari Jawa yaitu Pak Broto Sutarjo, dan Pak Dirdjo.

Dalam masa perguruannya itu, Suhu Yap Kie San menilai Pak Dirdjo sebagai pemuda yang berbakat. Suhu Yap Kie San menghadiahi Pak Dirdjo sepasang pedang sebagai symbol kecintaan guru kepada murid terkasihnya.

Bak kata pepatah, sejauh-jauhnya burung terbang nanti akan kembali ke sarangnya juga; demikian pula Pak Dirdjo. Beliau akhirnya kembali ke Yogyakarta . Di Kota Budaya ini Pak Dirdjo diminta mengajar ilmu silat di Taman Siswa, sebuah sekolah yang didirikan oleh tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantoro yang juga pamannya.

Pak Dirdjo tidak begitu lama mengajar silat di Taman Siswa, sebab ia harus bekerja di Pabrik Gula Plered di kawasan Yogyakarta juga. Di pabrik gula ini ia menduduki jabatan Magazie Meester.

Lalu pada tahun 1947-1948, berkat pertolongan dari Bapak Djumali yang bekerja di Departemen Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta, Pak Dirdjo diangkat menjadi pegawai negeri di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Seksi Pencak Silat. Dengan misi mengembangkan silat itu, Pak Dirdjo kemudian mengajar Himpunan Siswa Budaya (sebuah unit kegiatan mahasiswa Universitas Gadjah Mada). Jelas saja para muridnya adalah para mahasiswa Universitas Gadjah Mada pada awal-awal berdirinya kampus tersebut. Pak Dirdjo juga membuka kursus silat di kantornya.

Beberapa murid Pak Dirdjo kala itu seperti Mas Dalmono (Ir Dalmono – kabar terakhir ia belajar dan kemudian bekerja di Rusia), Mas Suyono Hadi (Prof DR Suyono Hadi – telah meninggal dunia dan bekerja sebagai dokter dan dosen Universitas Padjadjaran Bandung), serta Mas Bambang Moediono alias Mas Whook.

Ketika tahun 1953 Pak Dirdjo mulai pindah ke Surabaya berkaitan dengan tugasnya sebagai pegawai negeri di Kantor Kebudayaan Jawa Timur Urusan Pencak Silat, maka murid-muridnya di Yogyakarta yang berlatih di UGM maupun di luar UGM bergabung menjadi satu dalam wadah bernama Himpunan Penggemar Pencak Silat Indonesia (HPPSI) dengan diketuai oleh Mas Dalmono.

Sementara itu di Surabaya, Pak Dirdjo kembali mengembangkan ilmu silat dalam kursus-kursus silat di lembaganya. Baru pada tanggal 2 Juli 1955, Pak Dirdjo dibantu Pak Imam Ramelan secara resmi menamakan silat yang diajarkan dengan nama Perisai Diri. Para muridnya di Yogyakarta pun kemudian menyesuaikan diri menamakan himpunan mereka sebagai Silat Perisai Diri.

Di sisi lain, perguruan Eka Kalbu yang pernah didirikan oleh Pak Dirdjo secara alami murid-muridnya masih berhubungan dengan Pak Dirdjo. Mereka tersebar di kawasan Banyumas, Purworejo, dan Yogyakarta . Hanya saja perguruan ini kemudian memang tidak berkembang, namun melebur dengan sendirinya ke Perisai Diri, sama seperti HPPSI di Yogyakarta. Satu guru menjadikan peleburan perguruan ini menjadi mudah.

Para murid Pak Dirdjo sebelum nama Perisai Diri muncul hingga kini (tahun 2008) masih hidup. Usia mereka berkisar antara 65 tahun hingga 70 tahun lebih dan masih bias dijumpai di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya.

Berbahasa Indonesia
Segala teknik silat Perisai Diri ditulis dalan bahasa Indonesia yang baku . Hal itulah yang menjadikan Perisai Diri lebih mudah diterima oleh kalangan terdidik seperti mahasiswa. Penulisan teknik dalam bahasa Indonesia baku sebenarnya harus diakui sebagai langkah maju tersendiri dibandingkan perguruan lain yang masih berkutat dengan bahasa daerah asal perguruan itu berkembang.

Bahkan dengan nasionalismenya itu, Perisai Diri akhirnya bisa diterima di semua kalangan beragam suku, agama, maupun strata sosial. Dapat dipelajari oleh seluruh penduduk Indonesia yang tinggal di 17.000 pulau.

Motto Perisai Diri “Pandai Bersilat Tanpa Cedera” yang juga bermakna pandai beladiri tanpa cedera, makin membuat beladiri ciptaan Pak Dirdjo bisa dipahami dengan logika. Pecinta beladiri akan mengerti bahwa seorang ahli beladiri memang sulit untuk dicederai lawan. Bisa juga berarti dalam berlatih pun ia tidak akan cedera karena kesalahan sendiri.

Unsur kecepatan dalam beladiri menjadi pegangan Pak Dirdjo. Ia mewajibkan para muridnya mampu melakukan gerakan silat minimal dua gerak dalam satu detik. Gerakan itu bisa berupa serangan, hindaran, tolakan, tebangan, ataupun paduan unsur-unsur itu. Jadilah Perisai Diri menciptakan gaya silat SATU DETIK DUA GERAK.

Istilah satu detik dua gerak itu semula dianggap sepele oleh banyak pendekar maupun pecinta silat. Akan tetapi semakin mereka banyak menyaksikan pertandingan silat yang mulai digelar sejak 1970-an, para pendekar silat maupun pecandu beladiri lain semakin memahami misteri kata “satu detik dua gerak” tersebut. Hanya seorang ahli beladiri nan piawai saja yang mampu bergerak secepat itu.

Sementara diakui atau tidak, nama-nama teknik silat Perisai Diri kini sudah diadopsi di kancah persilatan. Istilah tendangan Sabit, kemudian tendangan T (baca TE), bahkan sapuan; misalnya, sudah menjadi bukti bahwa keinginan Pak Dirdjo terwujud. Istilah itu dipakai di dunia persilatan. Bila kemudian ada beberapa perguruan baru muncul dengan menggunakan teknik Perisai Diri, itupun tidak pernah dipermasalahkan. Mungkin, para murid Pak Dirdjo pun — tanpa setahu mereka –, kini memiliki lebih banyak saudara perguruan karena menyerap ilmu yang sama dengan nama perguruan yang berbeda.

Ada 19 macam teknik tangan kosong yang disebut teknik asli di Perisai Diri seperti Jawa Timuran, Minangkabau, Betawen, Cimande, Burung Mliwis, Burung Kuntul, Burung Garuda, Kuda Kuningan, Lingsang, Harimau, Naga, Satria Hutan, Satria, Pendeta, Putri Bersedia, Putri Sembahyang, Putri Berhias, dan Putri Teratai.

Bukan melulu teknik tangan kosong, para murid pun diajari berbagai senjata mulai dari pisau, pedang, toya, senjata lempar, sampai dengan pengembangan dari senjata-senjata itu seperti rantai, cambuk, tombak, dan lain-lainnya.

Pak Dirdjo selalu berpesan kepada murid-muridnya agar menguasai ilmu silat haruslah dengan cara mendaki dan memanjat, bukan dengan melompat. Untuk memahami ilmu silat memang memerlukan kerajinan, ketekunan, kesungguhan, dan disiplin.

Pak Dirdjo wafat usia 70 tahun, ditunggui para muridnya di Surabaya pada 9 Mei 1983. Pada tahun 1986, beliau mendapat gelar Pendekar Purna Utama dari Pemerintah Republik Indonesia

Originally written by Suherdjoko, a writer for The Jakarta Post and a Pendekar Muda in Perisai Diri.

wah gak berasa ud 15 hari puasa aj..ibadahnya masih gtu2 aj.baca qur’an aj ktinggalan stengahnya. haduuh.kpn gw bs dapet surga ya??

Posted by ShoZu

ini adalah kisah nyata. hahhaha,kesannya bakal kek gmn gtu..
okeh, begini..

tiap gw ke jakarta, gw slalu menyempatkan diri untuk berpacaran. slalu. yaaa, buat seneng2, kluar dari rutinitas dikampus dan beralih pada rutinitas yg lain, dan makan2. hehehe

uang pasti kluar dong..gak mungkin gak. walopun gw udah make vespa buat memperkecil ongkos jalannya. sampelah beberapa puluh ribu hingga seratus ribu lebih2 sikit. sehari. hehehe

bukan tajir, itu emang saving gw tiap bulan. save 200rb, buat ongkos dan pacaran beberapa kali di jakarta. klo pacaran, brgkt pagi dg perut kosong (seringnya sarapan dulu sih.hehehe) trus pulang malem dg perut terisi (nah, sampe rumah kadang gw makan lagi sih.hehehe.ups!). sekitar 10 – 12 jam sehari buat pacaran, 8 jam buat tidur dan sisanya buat kluarga. eniwei, bukan itu yg mau gw bahas..

tiap gw pulang pacaran, jam 9an lewat gtu. gw selalu melihat sebuah gerobak, isinya kardus2 gtu dan bbrp potong kain yg gak jelas (karena udah malem dan gw lewat situ dg kecepatan 60 km/jam). masih ada lagi, ada anak2. 3biji. yg 2 masih di bawah 10 taon kynya, dan 1 lagi masih orok. mereka adalah anak2 dan properti dari seorang wanita yg setia mengikuti suaminya yg lo bisa tebak sendiri kerjaannya.

malem apapun gw lewat,mereka selalu disana..si ibu gendong yg orok, si bapak ngurus yg dy bisa. mereka duduk disamping gerobak usang itu, beralas koran. kadang gw liat anak yg gede2 udeh geletak tidur. pernah jg gw liat sebungkus ato 2 makanan sedang disantap. ntah yg lain mkn apa..

sh*it. gw hambur duit seharian dan berkali2, sedangkan mereka tetap disana. gak ada tanda2 mereka bakal nemuin tempat yg lain. selain disana. dipinggir jalan, sebelah comberan, samping indomaret.

kadang gw kpikiran buat bawa sesuatu buat mereka gtu. 5 bungkus kli ini..tp blm kesampean ampe sekarang. gw bakal gak tahan kli nyamperin mereka. takut aer mata nyelonong kluar gtu aj.

hmm..itu gw anggep teguran sekaligus kesempatan yg ampe skrg gw cuekin. goblok dah.

smoga gw berbuat untuk mereka walopun sekali.
gw harap, lo jg bgtu klo liat kesempatan ky gtu disekitar.

memang, gak bakal menyelesaikan masalah. tp yg gw tau islam menyarankan agar gw meringankan beban sesama. waktu umar tau bahwa ada rakyatnya yg kelaparan, hal yg dia lakuin jg cuma ngasi sekarung gandum yg dia punya dirumah yg dia bawa sendiri ke TKP. bukan ngasih kerjaan buat jadi sekretarisnya.hehehe

smoga qt bisa blajar dari apapun. dan hati qt ttp terbuka untuk bs memahaminya.